Intro : C F G C
C
F
Lepas semua yang ku inginkan
G
C
Tak akan ku ulangi
C
F
Maafkan jika kau ku sayangi
G
C
Dan bila ku menanti
C
F
Pernahkah engkau coba mengerti
G
C
Lihatlah ku disini
C
F
Mungkinkah jika aku bermimpi
G
C
Salahkah tuk menanti
Interlude : C A# G# G C A# G# G
Reff :
C
F
Takan lelah aku menanti
G
C
Takan hilang cintaku ini
C
F
Hingga saat kau tak kembali
G
C
Kan ku pendam dihati saja
Interlude : C A# G# G 4x
C F G
C
C F
G C
Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
C
F G
C
Hingga tiada cinta yang tersisa dijiwa
Minggu, 07 Desember 2014
Kamis, 25 September 2014
Halte
Aku
melirik padanya. memperhatikan penampilannya yang terkesan anak kuliahan karena
pakaian yang ia kenakan. “menunggu bus” Aku menjawab sekenanya saja pada lelaki
disebelahku itu.
...
Angin
di malam ini, sama seperti malam kemarin. Hanya saja sedikit berhembus lebih
kencang. Kain jilbabku terbawa angin, kutarik perlahan, membawanya kesisi yang
lain. Aku berdiri malam ini. Masih tak ada bintang. Bulan pun hanya samar
terlihat. Kutarik nafasku dalam-dalam. Entah apa yang akan orang lain katakan
melihat aku yang berdiri disini 2 jam lebih. Menunggu seseorang yang tak
kunjung datang.
Aku memang salah. Satu tahun
yang lalu saat dia masih di sini, aku diam dan acuh. Setahun yang lalu pula,
aku tetap melakukan hal yang sama, berdiri disini menanti bus yang datang, di
halte ini saat kau menggandengnya dengan caramu yang justru aku suka. Aku hanya
terdiam kaku. Aku berusaha mengatur nafasku yang berdegup kencang saat kau
bersamanya. Sangat menyesakkan. Kuatur kembali nafasku. Kulirik kau semakin
menjauh dengannya. Tertawa bersamanya, merangkulmu, dan bersandar dibahumu. Kututup
mataku.
Bagaimana
mungkin aku merasa ia menjauh dariku? Inikah perasaan tuhan, saat tuhanmu
mendekat dan kau malah menjauh? Ah, aku tak pernah menyadarinya, aku selalu
mengaguminya tapi aku salah. Salah besar! Yang pantas ku kagumi adalah yang
menciptakanku. Aku terjaga dalam lamunanku. Lamunan yang takkan pernah ada
artinya lagi.
Tidak.
Itu bukan hal penting yang seharusnya otakku pikirkan, masih ada hal yang
penting yang belum kulakukan. Menunggu bus, salah satu hal penting yang harus
kulakukan. Bukan sekadar melamunkannya, membayangkan melihat dirinya bersama
perempuan berambut ikal itu bercanda ria disudut halte yang lainnya.
Aku
kembali terjaga. Kulirik jam di lenganku. 2 setengah jam sudah aku menunggu
disini, masih sama dengan tahun lalu, menanti bus yang akan datang. “boleh aku
menunggu bus disini?” seseorang menghampiriku, dari arah samping. Pakaiannya
simple, berbalut dengan jaket tebal dan sepatu
“tentu.”
Aku memberinya tempat
“apa
yang kamu lakukan malam-malam seperti ini?” katanya ramah berusaha memulai
obrolan denganku.
Aku
melirik padanya. Memperhatikan penampilannya yang terkesan anak kuliahan karena
pakaian yang ia kenakan. “menunggu bus.” Aku menjawab sekenanya saja. Bukan,
bukan aku berusaha untuk naif, jaim, tapi
inilah aku. Aku bukanlah orang supel yang langsung akrab dengan orang
yang baru ku kenal. Dan kupikir itu caraku menjaga diriku sendiri di kota besar
ini.
“mau
pulang?” katanya bertanya lagi padaku. Suasana di halte yang sepi mendadak berubah,
karena suaranya yang besar yang terkesan berat atau mungkin ia tipe orang yang
tidak suka keheningan.
“iya.
Naik bus” ucapku.
“ooh...”
ia mengangguk. Kurasakan angin kembali berhembus, dingin, tapi aku tetap
berdiri di halte itu.
“duduklah.
Aku tahu kau sudah lama berdiri.” Katanya mempersilahkanku duduk.
Hanya
berdua dihalte dan aku harus menerima tawarannya? Tidak. Aku tetap pada
pendirianku untuk berdiri. Kujawab hanya dengan senyuman lelah dari mukaku.
“yasudah kalau kau tak mau” sepertinya ia
mengerti apa maksudku. Ia kembali duduk di tempat tunggu halte dengan muka tak
enak hati. Mungkin saat ini ia tengah memiliki rasa tak enak padaku. Tapi
sungguh, aku hanya tak ingin berbicara untuk saat ini, itu semua karena ingatan
tentang halte ini 2 tahun yang lalu itu sungguh merusak mood ku saat
ini.
Bus
pun akhirnya datang. aku masuk pertama. Kukira dia takkan menaiki bus yang
sama. Tapi entah kebetulan, ia juga naik dalam bus yang sama. Ah... hanya ada
satu kursi yang kosong. Kutengok kebelakang “kamu duluan” katanya berusaha
ramah padaku. “kau tidak mau?” tanyaku kepada orang asing itu. “tidak, aku
sudah duduk tadi di halte.” Katanya tersenyum. Aku masih kaku untuk senyum
padanya. Aku duduk di situ.
Malam
semakin larut. Kostanku masih jauh dari sini, dan sepanjang perjalanan aku
menjadi orang jahat yang membiarkannya berdiri sendirian memegangi pegangan
tali atas bus. Perlahan, kulirik dirinya. Aku hanya ingin memastikan dia tetap
terjaga, jangan sampai kantuknya membuatnya roboh. Tatapanku salah waktu, ia
juga melirikku! Aku membuang pandanganku. Merasa tak ada apa-apa yang terjadi.
Kulirik lagi dirinya. Orang asing di sebelahku yang sedang berdiri yang bahkan
tak pernah ku tahu namanya itu tersenyum padaku. Entah apakah ia tahu aku tadi
meliriknya atau karena memang benar ia seorang idiot yang hanya bisa tertawa
saat orang lain terlelap dikursinya masing-masing.
“kenapa
kau tertawa?” aku yang merasa tersindir akhirnya angkat bicara memulai
pembicaraan. “tidak apa-apa.” Katanya terkekeh. “kurasa tidak ada yang lucu.”
Lanjutku menutup mukaku dengan buku yang telah kubeli.
Ia
hanya tersenyum. Aku tidak suka pandangannya padaku. Persis seperti dia yang
memandang perempuan ikal itu. aku memang suka saat dia memandangku, tapi tidak
untuk orang asing disebelahku.
Bus
itu berhenti untuk sekadar istirahat. Kulepas penatku. Ah, jam digitalku
menunjukkan sudah pukul 8 malam. Aku belum shalat. Pandanganku memutar. Masih
belum terlihat ada mushollah atau masjid di sekitarnya. Sudut mataku yang satu
melihat sebuah masjid. Ah... jadwal bus istirahat masih lama. Kulangkahkan
kakiku ke arah masjid itu. angin hari ini masih bersahabat. Aku masih segar,
apalagi setelah air wudhu yang membasuhi tangan dan muka ku terkena angin. Andai
hidup di akhirat nanti orang terjamin seperti sejuknya air wudhu ini tanpa
melihat dosa, pasti aku akan lebih senang.
Aku
mengambil shaf pertama di bagian wanita. Kulihat sekitar. Mataku memandang
sekitar, untuk mengetahui apakah aku bisa ikut berjamaah dengan shaf laki-laki.
Dan sorotan mata itu sekilas aku melihatnya. Ah. Lelaki di halte itu lagi. Aku
membuang pandanganku begitu ia tersadar bahwa aku, melihatnya. Ia tersenyum,
dan kemudian menghampiriku. Otakku berfikir keras. Untuk apa ia mendekatiku? Ia
punya wudhu begitupula aku. “berjamaah yuk.”kata manis itu terlontar dari bibir
pemuda itu. aku terkejut karena itu hal yang tadi ingin kulakukan dan dia tahu
aku ingin melakukannya.
“kau
sudah wudhu?” ucapku berbasa-basi meyakinkan dia takkan macam-macam. Dan apapun
yang dia tawarkan, kuharap ia tulus dari hati. “tentu. Ayo sholat.” Lelaki itu
berbalik badan mengambil tempat tepat di depanku. Aku terpaku. Baru kali ini
aku berjamaah dengan orang asing yang berusaha ramah, namun aku menghalaunya, hanya
karena senyumannya yang mengingatkanku tentang orang yang pernah menyakitiku.
Aku
akui ia orang yang ramah. Dan senyumnya berkharisma. Mungkin dari sudut itu aku
memandangnya. Salam terakhir kupanjatkan pada Illahi robbi agar aku sehat dan
selamat di perjalanan pulangku ini. Ia berdzikir. Tak lama berselang saat aku
sedang merapikan lengan bajuku, ia menoleh dan memberi salam padaku. Tangannya
yang menyatu dan pandangannya membuatku tersenyum sekilas. Aku tahu, ia lelaki
baik-baik.
Aku
keluar dari masjid itu. berjalan kembali menuju bus. Kulihat ia sedang memakai
sepatu. Menaiku bus, bukan hal yang luar biasa. Aku sudah berkali-kali menaiki
bus yang sama. Namun dengannya, seakan aku tak mau melepaskan pandanganku
padanya. Aku merasa tenang dan lupa dengan semua hal yang telah menyakitkan
bagi hatiku.
Lelaki
itu masuk kembali ke dalam bus. Kulihat penat diraut wajahnya. Pasti ia sangat
lelah. Aku kembali berdiri. Ku pegang pegangan bus diatas. Lelaki itu berjalan
mendekatiku. Kini lelaki itu ada di depanku. “duduklah” jawabnya
singkat.matanya terlihat sudah menahan kantuk. “ku kira kau yang harus duduk
untuk sekedar meluruskan punggungmu” jawabku melontarkan senyum. Senyum yang
tak bisa kulakukan pada orang asing, kecuali dirinya.
Lelaki
itu mengernyitkan dahinya.
“kenapa?”
ujarku bingung.
“apa
seperti ini sifatmu? Beberapa jam jutek, dan beberapa jam lagi ramah.” Ujarnya
merebahkan punggungnya di kursiku.
“menurutmu?”
aku melontarkan senyum lagi padanya. Dan kuharap, dia takkan bicara seperti
tadi, lagi.
“aku
yakin kau ramah” ujarnya menatapku.
Aku
langsung membuang tatapan ku padanya. Dan kuharap, ia mengerti kenapa aku
melakukan itu. sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Sesekali bergantian
tempat duduk. Aku memang telah mengizinkannya duduk di tempatku, tapi ia tetap
meminta per 30 menit bergantian duduknya.
Penumpang
disebelahnya telah turun. Ia menggeser tempat duduknya. “duduklah, sungguh aku
takkan melakukan apa-apa.” Jawabnya. Aku hanya tersenyum, dan aku tahu ia
menghormati perempuan.
Bus
terus melaju ke pemberhentian terakhir. “kenapa kau selalu membuang tatapanmu
saat melihatku?” ia memulainya.
“aku
hanya ingin Allah tahu aku menuruti perintahnya.” Ujarku pelan. Lelaki itu
hanya tersenyum. Bus itu kini berhenti. Tepat di depan pemberhentian yang
kutuju.
“Aku
harus turun” ujarku. Ia melihat jam digital di lengannya lalu melihat ke arah
jendela
“sudah larut malam ternyata ya. Baiklah.
Hati-hati ya.” Jawabnya padaku.
Aku
hanya melontarkan senyum. Sembari mengambil tasku yang masih ada di tempat
duduk penumpang.
“Hey!
Kita belum kenalan, siapa namamu?” aku yang sedang ribet dengan urusanku tak
menjawab pertanyaan lelaki itu.
“Namaku
Ilham!” ia melambaikan tangannya padaku. Bus kembali jalan. Aku sudah turun
dari bus itu. kulihat lelaki itu dibalik pintu bus yang perlahan menutup
otomatis. “sampai jumpa lagi!” ia tersenyum dari balik pintu bus itu.
....
Misteri Hutan Kecil ; karya Dian Noviantie
Dari
jendela perpustakaan, Riris melihat seorang cowok duduk di bawah pohon beringin
dekat hutan kecil itu, tengah memandangnya dengan tatapan sedih dan menusuk
hati. Siapa sebenarnya cowok itu?
...
“tapi kembalikan
malam ini juga yah, Ris.” Pinta Pak Ibrahim. Riris mengiyakan saja. Sialnya,
dia lupa meminta Keni menunggunya.
Hal yang paling
ditakuti adalah melewati hutan kecil menuju jala raya. Nggak ada jalan lain.
Riris bergidik. Membayangkan dia berjalan dalam kegelapan dalam hutan ini.
Sejak tahun 1988
kampus ini pindah di daerah pinggiran. Sebelumnya berada di pusat kota.
Lama-lama tempat itu nggak cocok untuk tempat belajar. Akhirnya kampus ini
pidah ke daerah pinggiran yang masih asri.
Riris
celingak-celinguk sebelum memasuki hutan itu. berharap masih ada mahasiswa lain
yang pulangnya kemalaman seperti dia. tapi nggak ada siapa-siapa lagi.
Riris membaca doa
dalam hati. Mencoba menenangkan hatinya. Sebetulnya dia bukan penakut. Tapi
berjalan sendiri di hutan ini. Ihh... Riris bergidik lagi. Ngeri!
Dia berjalan
cepat-cepat. Tas ranselnya terayun-ayun mengikuti gerak tubuhnya. Riris panik.
Membayangkan dia bertemu dengan makhluk-makhluk halus. Ihh...
“halo”
Ada suara
menyapanya. Riris berhenti. Memasang telinganya baik-baik. Dia takut itu Cuma
halusinya semata.
“halo, halo...”
Riris lemas.
Kayaknya nggak ada siapa-siapa. Tapi dari mana suara itu datang. Riris berjalan
lagi. Lebih cepat.
“Non, tunggu!”
suara-suara langkah memburunya. Riris makin panik. Dipercepat langkahnya.
Napasnya tersengal-sengal. Sialnya, jalan raya masih jauh! Sebuah tangan
menarik ranselnya. Riris menjerit. Tubuhnya semakin lemah. Jantungnya bergerak
lebih cepat. Ohh, Tuhan, tolong...! Dia sibuk berdoa.
“jangan takut,”
sebuah suara berat terdengar. Riris memberanikan diri mengangkat wajahnya.
Sosok itu tinggi menjulang. Tapi bukan hantu. Seorang cowok tengah memamerkan
senyum termanisnya.
“sori yah aku
udah bikin kamu takut. Aku Ben. Anak teknik. Aku Cuma mau bilang kalo kamu
salah. Ini bukan menuju jalan raya. Tapi Rektorat. Kamu nggak ada urusan ke
sana kan malam-malam gini?”
Riris tersipu
malu. Aduuuh, saking paniknya!
“oke, kita jalan
bareng, yuk. Sambil ngobrol,” cowok itu berjalan di sisinya. Perasaan Riris
jadi tenang. Walau dia nggak kenal cowok
itu, tapi seenggaknya dia punya teman pulang.
“kamu kok baru
pulang sih?” cowok itu membuka percakapan.
“aku anak D3
Fisip. Biasanya sih pulang kuliah paling telat jam delapan malam. Cuma aku
harus ngopi dulu buku dosenku. Akhirnya jadi kemalaman. Kamu sendiri?”
“pulang tugas siaran
di radio anak-anak teknik. Biasanya sih nginep di studio. Cuman malam ini aku
harus ngerjain tugas gambar.”
“jadi kamu kos
dong?”
“iya. Di Gober.
Kamu sendiri?”
“Di Khairunnisa.
Dekat stasiun Pondok Cina.”
“kamu tidur di
stasiun?”
Riris tersenyum.
Nih cowok ngocol juga.
“tadi kamu bilang
foto copy buku dosen kamu. Berarti kamu sering bolos dong.”
“yah, abis gimana
yah? Keadaan yang memaksa begitu. Aku kerja part time. Sebagai apa saja,
stan guide, guru les privat, penjaga toko bahkan baby sister dikeluarga
bule pernah aku jalanin.
Sekarang aku
kerja di butik. Abis gimana yah, sebetulnya bapakku nggak sanggup biayain aku
kuliah. Cuma aku yang ngotot pengen kuliah. Bapak bilang aku boleh kuliah asal bisa
bayar uang kuliah sendiri. yah, terpaksa segala pekerjaan aku jalanin. Asal
halal. Buktinya sampe semester tiga ini kuliah ku lancar-lancar saja,” ada rasa
bangga dalam suara tersebut.
Ben memandang
kagum gadis mungil disampingnya. Keliatannya sih gadis itu lemah. Tapi
buktinya? Ben geleng-geleng kepala. Takjub.
“kamu sendiri?”
Riris mengangkat wajahnya. Menatap Ben.
“ahhh, hidup kamu
jauh lebih beruntung, Ris.” Desah Ben. Pandangannya menerawang. Menembus
pekatnya malam.
“Ben, bukan
bermaksud aku ikut campur. Kalo kamu gak mo cerita nggak apa apa kok.”
“yah udah. Anggap
aja aku temen kamu.”
“kamu mau?”
sepasang mata teduh itu berbinar, Riris menelan ludahnya. Cowok ini pasti
sangat membutuhkan teman bicara.
“aku korban
broken home. Ortu cerai sejak aku lulus SMA. Sebetulnya aku nggak minat kuliah.
Buat apa. Toh mereka juga gak berharap aku jadi orang. Tapi bokap maksa. Malah
ngancam akan mengusirku dari rumahnya. Terpaksa aku kuliah. Daripada aku jadi
gelandangan. Tapi aku sering bolos. Sebetulnya aku nggak minat kuliah di
teknik. Bokap yang maksain. Katanya biar perusahaan desain graphis-nya jatuh
ketanganku. Tapi aku nggak peduli. Kuliah bagiku Cuma pelarian. Biar aku bebas
dari rumah.”
Ben menghentikan
ceritanya. Riris menunggunya dengan sabar. Angin berhembus kencang. Riris
merasa dingin. Dirapatkan kerah sweaternya.
“dingin? Nih pake
aja jaketku.” Ben telah menyodorkan jaket jeansnya. Riris nggak tega nolak.
Wangi parfum khas cowok menyergap hidungnya. Macho. Semacho penampilannya.
“aku sering
nongkrong di cafe-cafe. Disitu aku kenalan dengan anak-anak yang nasibnya nggak
beda denganku. Mereka ngenalin aku dengan sesuatu yang bisa membuatku melupakan
penderitaanku. Membuatku nyaman. Aku seperti melayang-layang. Ringan. Bebanku
seperti lenyap. Aku bisa tertawa-tawa bahagia.”
“Ben, kamu ngedrugs?”
tanya Riris hati-hati.
“yah, ngga ada
cara lain menghentikan kesedihan itu, Ris. Aku frustasi. Aku seperti nggak
berarti apa-apa.”
“sebetulnya kamu
pengen kuliah dimana?”
“Aku seneng
banget gambar. Aku udah di terima di ASRI Yogya. Aku pengen jadi seniman. Punya
sanggar lukis sendiri. Tapi Bapak telah merusak impian itu. katanya, jadi
seniman adalah hidup sia-sia. Cuma merusak nama ningrat keluarga Bapak.”
“ibumu?”
“dia udah punya
keluarga sendiri. dari dulu ibu nggak tahan sama keluarga bapak yang terlalu
membanggakan keningratannya. Aku sendiri heran. Di zaman yang udah semodern ini
darah biru masih aja merupakan kebanggaan. Bagiku derajat manusia sama aja
dimata Tuhan. Yang penting bagaimana dia menjalakan kehidupannya.”
“tapi kamu nggak
pernah ngedrugs lagi kan?” tanya Riris. Hati-hati lagi. Takut
menyinggung perasaan Ben.
“Kadang kala,
Ris. Kalo aku lagi suntuk. Nggak tau mau ngapain.”
“kenapa nggak
berdoa aja? Atau sholat?”
Ben tercenung.
Lama.
“udah lama banget
aku nggak pernah sholat, Ris. Paking kalo lebaran aja. Itupun sholat
sendiri-sendiri. nggak pernah berangkat dan pulang bareng. Kalo lebaran aku
malah sedih. Kapan keluargaku bakal rukun?”
“kenapa nggak
kamu yang merukunkan mereka. Kamu malah melarikan persoalan kamu dengan
ngedrugs. Apa dengan ngedrugs keluargamu bakal rukun kembali? Nggak kan? Sorry
lho, Ben, bukan maksudku sok menggurui kamu.”
“tapi
seenggak-nggaknya dengan itu aku bisa melupakan persoalan sebentar.
“iya, Cuma
sebentar. Setelah kamu sadar lagi, persoalan itu masih terus saja ada.”
Ben mengangguk.
Menyetujui pendapat Riris. Baru kali ini pemikirannya terbuka. “Thanks Ris. Aku
sadar apa yang aku lakukan nggak akan mengubah keadaan. Malah bertambah kacau.”
“kamu janji nggak
akan mengulanginya lagi?” tanya Riris berdebar-debar.
“aku janji, Ris.
Demi kamu.”
Hati Riris
berbunga-bunga. Langkahnya semakin ringan. Kayaknya udah lama dia mengenal Ben.
Mereka ngobrol lagi. Yang ringan-ringan saja.
“udah sampe nih
Ris. Kamu naik apa?”
“taksi aja deh.
Abis udah malem sih. Kamu sih enak. Udah nyampe di kos?”
Ben mengangguk.
Menunjukkan rumah bertingkat bercat putih. Kos khusus cowok.
“oya, nih
jaketnya. Entar kelupaan lagi. Thanks yah.,” Riris melepas jaket jeans milik
Ben.
Mereka berpisah.
Riris merasa berat. Seandainya mereka bisa ngobrol lebih lama lagi. Ahhh, belom
tentu tentu mereka ketemu lagi. Riris menyesal. Kenapa nggak ngasih nomor
telepo kostnya?
Ketika Riris
menoleh untuk memanggil Ben. Ben udah nggak keliatan lagi. Cowok itu
menghilang! Secepat itu?
...
“Pulangnya
buruan, yuk. Udah malem nih,” Keni menatap cemas jam Guess-nya.
“tenang deh, Ken.
Ngga ada apa-apa kok,” Riris merapikan alat-alat tulisnya. Dimasukkan ke tas
ranselnya.
“Ah, sok tahu
lo,” Keni manyun. Diikuti langkah Riris keluar dari kelas mereka. Anak-anak
yang lain udah bergegas pulang. Kebanyakan mereka nebeng dengan anak yang bawa
mobil. Atau setia nunggu bis kampus yang akan lewat.
Tapi banyak juga
yang memilih lewat hutan kecil itu. lebih cepat ke jalan raya. Setelah baru
naik bis. “seminggu yang lalu gue malah kenalan ama anak teknik. Keren deh
anaknya. Kayak Atalarik. Lo tau kan?”
“Atalarik kek, Brad
Pitt kek, emang gue pikirin. Jalannya yang cepet dong, Ris, tuh kita
ketinggalan jauh ama yang lainnya.”
“aduuh, Keni.
Penakut amat sih. Percaya deh ama gue. Nggak ada apa-apa. Gue malah kenalan ama
duplikat Atalarik itu. Namanya Ben.”
“Ris, lo sih
nggak tau gosip yang beredar di kampus ini. Lo sibuk kerja sih jadinya nggak
tau kan gosip terbarunya anak-anak?” tanya Keni tanpa memperdulikan omongan
Riris.
“apaan sih, Ken?
Paling-paling gosipnya Pak Hengki yang naksir Bu Lita. Atau Citra yang putus
sama Emir. Ahhh, kalo Cuma itu sih bosen. Gosip nggak bermutu.”
“namanya juga
gosip. Mana ada yang bermutu sih? Masalahnya bukan itu, Ris. Tapi kalo gue
ceria lo juga bakal nggak percaya. Lagian gue takut cerita yang serem-serem di
tempat seperti ini.”
“Ooo... jadi
cerita serem nih?” tanya Riris cuek. Tanpa memperdulikan wajah Keni yang udah
pucat.
“Ahhh, udah deh
nggak usah dibahas. Gue takut kalo gue cerita besok lo nggak mo pulang lagi.
Malah ngumpet aja di kelas.”
“emangnya gue
kayak loe,” balas Riris nggak mo kalah. Keni diam aja.
“Dua hari yang
lalu Putri shock lewat sini. Tapi dia nggak mo cerita.”
“trus gosip
seremnya apaan dong?” tanya Riris penasaran.
“kan udah gue bilang,
gue nggak mo cerita di sini. Entar-entar aja kalo gue udah berani lewat sini
sendirian.”
“yah, sampe kapan
dong?” lama-lama Riris jengkel juga. mo cerita aja sush amat.
“besok lo nanya
aja ama anak-anak yang lain. Uff, utung udah nyampe deh! Mendigan mulai besok
gue minta Hang jemput gue aja deh.”
“gue pulang
sendirian dong?”
“lho, katanya lo
berani?”
Riris cemberut.
Mana enak pulang sendiri. mending kalo ketemu Ben. Riris jadi ingat cowok itu.
dia udah nggak ketemu cowok itu lagi. Mungkin hampir tiap malam cowok itu
nginep di studio.
...
“cowok itu emang
cakep sih. Tapi kalau dia tersenyum, ihh... dingiin banget. Perasaan gue jadi
nggak enak. Gue buru-buru kabur aja,” cerita Mitha di kantin.
Riris menikmati
nasi gorengnya cuek. Pagi ini mereka ada kuliah. Menggantikan jam kuliah Pak
Ibrahim yang berhalangan hadir tiga hari yang lalu. Terpaksa Riris minta ijin
Mbak Risa, penanggung jawab butik itu. abis dia nggak boleh bolos lebih dari
dua kali.
“gue juga sering
ngeliat dia nongkrong di Balsem. Kayaknya sih bukan anak Fisip. Tapi dia kok
demen banget disitu,” Sasa menimpali cerita Mitha.
“orangnya kayak
gimana?” tanya Putri tertarik.
“jangkung, putih,
wangi... pokoknya keren deh. Kayak foto model,” jelas Mitha.
“kayak atalarik?”
bisik Sasa.
Riris mengangkat
wajahnya. Siapa... Atalarik? Berarti Ben dong. Ben juga mirip-mirip Atalarik.
Wah, gawat kalo mereka udah ketemu Ben. Ben bakal jadi rebutan!
“kita waktu itu
ngobrol-ngobrol. Kasian deh. Dia korban broken home. Dia dipaksa kuliah disini
padahal dia nggak minat. Waktu gue nanya nomor telepon rumahnya biar komunikasi
terus berlanjut, dia nggak mo kasih. Begitu juga waktu gue kasih nomer telepon
gue, dia cepet-cepet pergi. Tingkahnya aneh banget. Trus, ilangnya itu cepeeeet
banget. Gue jadi curiga deh. Jangan-jangan dia...”
“udah, udah! Lo
jangan nyebarin gosip dong, Mit! Gue kan jadi takut pulang lewat hutan itu,”
Sasa merapat ke tubuh Riris.
Kepala Riris jadi
pusing. Gosip? Gosip apaan sih? Banyak banget sih gosip yang beredar di kampus
ini?
“mit, cerita
dong,” pinta Riris serius.
Mitha menoleh ke
Sasa. Tapi Sasa menggeleng. “jangan deh, please... hari ini gue kuliah sampe
malem nih. Sopir gue nggak jemput lagi. Terpaksa gue naik Bis. Dan mo nggak mo
gue kudu lewat jalan hutan itu,” keluh Sasa sambil narik napas panjang-panjang.
“ya, udah deh,
kalo nggak mo cerita. Gue pusing nebak-nebak gosip yang beredar di kampus ini.
Mendingan gue ke perpus aja. Ada buku yang mo gue pinjem.” Riris berdiri mo
bayar makanannya ke ibu kantin.
Dengan santai
Riris masuk ke perpus. Tumben sepi. Biasanya jam segini banyak yang baca buku
di sini. Sebelum menuju rak buku perbankan, iseng-iseng Riris menjangkau koran
‘Gema Kampus’ milik anak-anak Fisip yang terbit seminggu sekali. baru kali ini
ia sempat baca. Biasanya sih nggak pernah ketinggalan. Riris menelusuri satu
per satu artikel-artikel yang ada di ‘Gema Kampus’. tiba-tiba matanya melotot.
Dibawah kiri, ada artikel kecil. Plus sebuah foto keren. Riris seperti kenal
dengan wajah keren ini. Ben...
Seminggu
yang lalu ditemukan seorang cowok tewas tertabrak kereta api di jalur rel
kereta api depan hutan kecil, dekat kampus Fisip pada pukul enam pagi. Walau
beberapa saksi mata telah memperingati cowok itu supaya tidak menyebrang. Tapi
sepertinya cowok itu tidak sadar diri. Diduga dia abis ngedrugs...
Riris melihat
tanggalnya. Tanggal 17, berarti kejadiannya tanggal 10. Tepat malamnya ia
bertemu dengan Ben. Kenalan, ngobrol-ngobrol... ih, Riris merinding.
Tiba-tiba matanya
berkunang-kunang. Riris menjerit. Dari jendela perpus, dia melihat seorang
cowok tengah duduk di bawah pohon beringin, dekat hutan kecil itu. tengah
memandangnya dengan tatapan sedih dan menusuk hati. Dia mengenakan jaket jeans
yang seminggu lalu Riris meminjamnya. Riris seperti mencium wangi parfum cowok
itu yang macho.
Riris yakin cowok
itu adalah.... Ben!
***
Rabu, 27 Agustus 2014
Selasa, 26 Agustus 2014
Minggu, 24 Agustus 2014
Langganan:
Postingan (Atom)











